Powered By Blogger

Selasa, 14 Juni 2011

EKO.SDA (KEMISKINAN dan deplesi SDA)

“KEMISKINAN, PEMBANGUNAN EKONOMI DAN DEPLESI SDA”
Di susun Oleh
Kelompok
Syafran Pardamean 108084000014
Dwi Aji Sapto 108084000015
Muhammad Riza 108084000025
Avanda Fahri Atahrim 108084000034
Feline Yuliani Sayogie 108084000079
M.Fauzi Heriansyah 106084002740

Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Konsentrasi Ekonomi Pembangunan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2011


Pendahuluan

Begitu banyak masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Dari sekian banyak masalah,ada dua isu yang akan menjadi pokok bahasan dari tulisan ini, yaitu kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Apa sebenarnya akar dari masalah-masalah tersebut?

Data statistik tahun 2003 menunjukkan bahwa penduduk miskin berjumlah 38,7 juta jiwa atau 17,6% dari penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, 21,2 juta atau 56,9% di antaranya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sungguh ironis, mengingat Pulau Jawa adalah sentra pembangunan di Indonesia. Pembangunan, yang tujuan utamanya mensejahterakan masyarakat, menemui suatu tembok penghalang dalam mencapai tujuannya tersebut.
Data pemetaan kerusakan lingkungan dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup juga menunjukkan bahwa mayoritas kerusakan lingkungan terjadi di Pulau Jawa..Apa sebenarnya perbedaan antara Pulau Jawa dengan pulau-pulau lain di Indonesia? Ada satu perbedaan yang sangat signifikan di antara Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Indonesia, yakni kepadatan penduduk Pulau Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan pulau-pulau lain.

Apa kaitan antara populasi penduduk dengan kemiskinan dan kerusakan lingkungan? Mari kita tinjau satu per satu.

1. Keterkaitan antara Populasi Penduduk dan Kemiskinan
Persebaran penduduk sangat erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan penduduk. Untuk menilai tingkat kesejahteraan penduduk, maka parameter yang dapat digunakan adalah pendapatan per kapita masyarakat. Hal ini terkait langsung dengan tingkat ketersediaan lapangan pekerjaan. Idealnya, tingkat ketersediaan lapangan pekerjaan suatu daerah tidak berkorelasi langsung dengan potensi sumber daya alam. Artinya industri berbasis kreativitas menjadi ujung tombak perekonomian. Namun, penduduk Indonesia masih sangat bergantung pada sumber daya alam yang tersedia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Peningkatan jumlah penduduk (baik dari kelahiran maupun dari migrasi) tidak dapat diimbangi oleh kapasitas alam dalam menyediakan sumber penghidupan bagi masyarakat. Akibatnya, banyak penduduk tidak memperoleh akses ke lapangan pekerjaan. Meningkatnya tingkat pengangguran akan diikuti dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin.
Contoh sinergisme antara kepadatan penduduk dan tingkat pengangguran dapat dilihat di Pulau Jawa. Menurut data tahun 2005, Pulau Jawa adalah pulau dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia, yaitu 10,95% dari jumlah angkatan kerja (penduduk berusia 15 tahun atau lebih) menganggur. Propinsi di Jawa yang memiliki tingkat pengangguran tertinggi adalah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sebanyak 14,73% dari jumlah angkatan kerja di Jawa Barat menganggur. Dua propinsi yang menduduki puncak daftar propinsi dengan kepadatan penduduk terbesar adalah propinsi yang sama, yaitu 13.344 orang/km2 di DKI Jakarta dan 1.044 orang/km2 di Jawa Barat. Data ini merupakan indikasi yang kuat bahwa kepadatan penduduk berbanding lurus dengan tingkat pengangguran di Indonesia.


2. Keterkaitan antara Populasi Penduduk dan Kerusakan Lingkungan
Benang merah yang menghubungkan populasi dengan kerusakan lingkungan adalah kebutuhan manusia akan sumber daya alam, baik untuk menunjang hidupnya maupun untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Bertambahnya populasi diikuti oleh meningkatnya kebutuhan akan lahan, untuk tempat tinggal dan tempat menjalankan aktivitas ekonomi. Karena itu, luas lahan yang awalnya berfungsi sebagai penyeimbang di alam (misalkan hutan yang berfungsi ganda sebagai penahan dan penyimpan air sehingga siklus air bisa tetap berjalan seimbang) berkurang. Akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan yang mengarah pada bencana. Banjir yang melanda Jakarta adalah salah satu contohnya. Selain akibat fenomena perubahan iklim (isu yang sangat populer akhir-akhir ini, yang menurut para ahli memicu peningkatan curah dan hari hujan), banjir disebabkan oleh beberapa hal.
Pertama, berkurangnya daerah resapan air. Pembangunan pemukiman dan pusat kegiatan ekonomi (misalnya perkantoran) telah mensubstitusi pepohonan dengan beton. Hal ini terjadi di beberapa tempat, terutama di daerah Puncak-Bogor, sebagai eksportir air limpasan hujan ke Jakarta.
Kedua, tumbuhnya pemukiman-pemukiman di sempadan sungai. Ini mengakibatkan penyempitan sungai sehingga aliran sungai menjadi bertambah deras. Banjir pun sulit untuk dihindari.Sebenarnya banjir adalah masalah yang sangat kompleks. Masalah infrastruktur pengendali banjir juga menjadi salah satu penyebab. Namun penyebab dominannya adalah kedua hal di atas. Keduanya dipicu oleh meningkatnya populasi penduduk.
Konsumsi energi, sebagai salah satu pengejawantahan dari kebutuhan manusia akan sumber daya alam, juga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Satu contoh yang paling bisa dilihat adalah polusi udara dari sektor transportasi. Banyaknya jumlah penduduk harus diimbangi dengan fasilitas transportasi. Sayangnya, teknologi ramah lingkungan belum banyak diterapkan pada sektor transportasi di Indonesia. Akibatnya, kepulan asap kendaraan bermotor ikut berpartisipasi mempercepat proses kerusakan lingkungan.
Berdasarkan penyebab utamanya, maka kita bisa fokuskan upaya mengatasi dua permasalahan utama di Indonesia tersebut pada usaha pengendalian populasi penduduk, terutama di pulau Jawa. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah pemindahan penduduk dari pulau yang penduduknya padat ke pulau yang penduduknya jarang, atau yang diistilahkan “transmigrasi” oleh Bung Karno.
Telah banyak pemukiman baru yang dibuka oleh Depnakertrans. Pada kurun waktu 2000-2006, sebanyak 976 lokasi UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) untuk 265.348 kepala keluarga (KK) telah disiapkan oleh Depnakertrans. Lokasi UPT ini tersebar di semua pulau-pulau Indonesia, kecuali pulau Jawa, Madura dan Bali. Namun, dari jumlah itu baru 574 lokasi untuk 165.689 KK yang sudah diserahkan. Ini berarti hampir separuh dari UPT yang telah siap belum diserahkan kepada transmigran.
Melihat ketersediaan UPT, rasanya kesulitan bukan dihadapi di tahap persiapan lokasi pemukiman transmigran. Masalah mungkin ditemui saat minat masyarakat untuk bertransmigrasi sangat rendah. Namun, mengingat sumpeknya suasana kota-kota di pulau Jawa (terutama Jakarta), lingkungan yang tidak bersahabat (polusi udara, banjir dan sebagainya) dan banyaknya jumlah penganggur, mungkin masalah minat yang rendah itu bisa pelan-pelan diatasi. Jadi apa sebenarnya apa hambatan terbesar yang dialami oleh Depnakertrans dalam menjalankan program ini?
Apa yang bisa BPK lakukan terkait masalah persebaran penduduk yang tidak merata ini? Sebenarnya, ada setidaknya dua hal yang bisa dilakukan oleh BPK.
Pertama, BPK bisa melakukan pemeriksaan kinerja atas program transmigrasi dari Depnakertrans. Pemeriksaan dilakukan untuk menyelidiki hambatan terbesar dari Depnakertrans dalam menyelenggarakan program transmigrasi. Berdasarkan hambatan tersebut, BPK dapat memberikan rekomendasi kepada Depnakertrans sehingga program tranmigrasi dapat mencapai tujuannya.
Kedua, BPK bisa melakukan pemeriksaan atas persebaran indeks pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia. Bila dilihat lebih luas, transmigrasi bukan hanya mengenai pemerataan jumlah penduduk, melainkan juga pemerataan pembangunan infrastruktur penunjang kehidupan, terutama kesehatan dan pendidikan. Pembangunan infrastruktur di Indonesia selama ini hanya terpusat di Pulau Jawa. Pemeriksaan atas persebaran indeks pembangunan dapat dilakukan untuk melihat daerah-daerah dengan tingkat pembangunan paling rendah sekaligus untuk untuk memberikan masukan kepada pemerintah pusat mengenai kebijakan pembangunan di masa yang akan datang.

3. Keterkaitan Sumber Daya Alam dan Pembangunan Ekonomi

Sumber daya alam merupakan segala macam sumber daya yang sifatnya heterogen dankompleks. Dilihat dari sifatnya, sumber daya alam merupakan sesuatu yang berguna danmempunyai nilai dalam kondisi di mana kita menemukannya, dan merupakan suatukonsep yang dinamis, sehingga ada kemungkinan bahwa terjadinya perubahan dalaminformasi, teknologi dan relatif kelangkaannya dapat berakibat sesuatu yang semuladianggap tidak berguna menjadi berguna. Sumber daya alam mempunyai nilai dan sifat jamak.
Oleh karena itu, sumber daya alam mempunyai dimensi jumlah, kualitas, waktudan tempat. Dilihat dari jenisnya, sumber daya alam dapat dibedakan menjadi dua yaitusumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable), dan sumber daya alam yangtidak dapat diperbaharui (non renewable).Dilihat dari peranannya terhadap pembangunan ekonomi, sejarah mencatat bahwamasyarakat dapat mencapai kemakmuran karena berhasil memanfaatkan sumber dayaalam yang dimiliki. Sampai sekarang masih ada orang-orang yang mengatakan bahwasalah satu faktor yang menyebabkan suatu negara mengalami kemiskinan karena tidak cukup sumber-sumber alam yang dimilikinya.Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan sumber daya alam, antara lainadalah faktor sosial dan budaya, teknologi dan keadaan ekonomi. Keadaan ekonomidapat meningkatkan dan menghambat penggunaan sumber-sumber alam. Keadaanekonomi dapat meningkatkan penggunaan sumber-sumber alam apabila didukung oleh faktor-faktor lain.
Namun keadaan ekonomi dapat menghambat penggunaan sumber-sumber alam apabila tidak didukung tersedianya faktor-faktor lain, seperti adanyaorganisasi yang kurang baik, distribusi yang kurang baik, bentuk pasar kurang tepat danketergantungan pada ekspor.Permasalahan dan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya AlamBeberapa permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya alam(SDA) antara lain adalah: sumber daya alam persediaannya terbatas, lokasi dari sumber daya alam letaknya jauh dari yang memerlukan, pergeseran para pengguna dari yangsemula memakai sumber daya alam yang renewable menjadi semakin tergantung padasumber daya alam yang non renewable, pemanfaatan sumber daya alam tidak lagi bijaksana dan berpandangan jangka pendek, dan belum adanya pertimbangan lingkungan.
Beberapa faktor yang dapat menunda kelangkaan sumber daya alam antara lain adalah: perubahan teknologi, kemajuan transportasi dan perdagangan internasional, daur ulang,substitusi penggunaan sumber daya alam, adanya rencana pengolahan sumber daya alamyang baik, dan menunjang usaha-usaha penelitian dan pengembangan suatu masyarakat.Dalam melihat berlangsungnya faktor-faktor yang menunda kelangkaan sumber dayaalam, ada dua pendapat yang berlawanan. Ada pendapat yang optimis dan ada pendapatyang pesimis. Alfred Marshall menyatakan dalam jangka panjang inovasi teknologinampaknya akan mengalami diminishing returns. Alfred Marshall tergolong berpendapat pesimis. Kaum optimis percaya bahwa teknologi akan terus menaikkan produktivitassumber daya alam. Di mana sumber daya alam akan mampu mengimbangi laju keluaransehingga pertumbuhan ekonomi tidak terhalang oleh masalah terbatasnya sumber dayaalam.Sumber daya manusia, sumber daya modal dan sumber daya teknologi merupakan unsur-unsur dalam pembangunan ekonomi.
Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya alamharuslah dilakukan secara bertanggung jawab. Artinya harus dilakukan secara bijaksanauntuk melestarikan persediaan sumber daya alam tersebut, sehingga generasi sekarangdan mendatang dapat menikmatinya. Pengelolaan sumber daya alam haruslah sedemikianrupa, sehingga sumber daya alam itu selalu dapat ditingkatkan persediaannya melaluiusaha eksplorasi dan eksploitasi, peningkatan efisiensi proses produksi, peningkatanfungsi serta dengan bantuan teknologi untuk dapat meningkatkan proses daur ulang.Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam pengelolaan sumber daya alam diperlukan suatukebijakan yang bertanggung jawab.
Pendapatan Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi. Pendapatan nasional merupakan jumlah keseluruhan nilai dari barang dan jasa yangdihasilkan oleh seluruh lapisan masyarakat selama periode tertentu, untuk Indonesiaadalah satu tahun kalender. Sedang pendapatan per kapita merupakan keseluruhan pendapatan nasional dibagi dengan jumlah penduduk. Ada tiga metode perhitungan pendapatan nasional. Ketiga metode tersebut adalah metode produksi, pendapatan dan pengeluaran. Idealnya dengan menggunakan ketiga metode tersebut mendapatkan hasilyang sama. Dengan metode produksi, pendapatan nasional dihitung dengan caramenjumlahkan keseluruhan nilai dari barang dan jasa yang dihasilkan untuk seluruhlapisan masyarakat selama periode waktu tertentu. Agar tidak terjadi pencatatan gandadalam penggunaan metode ini hendaknya yang dijumlahkan adalah nilai tambahnya.Dengan metode pendapatan, pendapatan nasional dihitung dengan cara menjumlahkanseluruh pendapatan yang dihasilkan karena penggunaan faktor-faktor produksi.
Sedangkan dengan metode pengeluaran, pendapatan nasional dihitung dengan cara menjumlahkanseluruh pengeluaran yang di lakukan oleh seluruh lapisan masyarakat.Pengertian pendapatan perlu dibedakan antara pendapatan nasional menurut harga yang berlaku dan pendapatan nasional riil. Pendapatan nasional menurut harga yang berlakumerupakan pendapatan nasional yang dihitung menurut harga-harga yang berlaku padatahun yang bersangkutan. Sedangkan pendapatan nasional riil merupakan pendapatannasional yang dihitung berdasarkan harga tetap. Dari data pendapatan nasional riil daritahun ke tahun, dapatlah dihitung laju pertumbuhan ekonomi.Beberapa manfaat perhitungan dan analisis dari pendapatan nasional dan pendapatan per kapita adalah: untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu negara, untuk mengetahuistruktur perekonomian suatu negara membandingkan tingkat kemakmuran antar negara,sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan, dan dasar penentu kemanfaatan hubungan luar negeri.Kelemahan Pendapatan Per Kapita sebagai Indikator Tingkat KesejahteraanPendapatan per kapita sering kali digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraanmasyarakat dan tingkat pembangunan ekonomi suatu negara.
Namun demikian, dalammenggunakan pendapatan per kapita sebagai indeks tingkat kesejahteraan kita harus hati-hati, karena meskipun pendapatan per kapita jelas dapat menunjukkan kinerja suatu perekonomian, namun itu bukanlah pengukur tingkat kesejahteraan yang memuaskan.Ada beberapa kelemahan pendapatan per kapita sebagai pengukur tingkat kesejahteraan.Beberapa kelemahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelemahan yang bersifat umum dan kelemahan yang bersifat metodologis.
Oleh karena adanya beberapakelemahan maka agar pendapatan per kapita tetap dapat digunakan sebagai pengukur tingkat kesejahteraan masyarakat diperlukan upaya-upaya penyempurnaan.Dalam usaha penyempurnaan indeks tingkat kesejahteraan, Backerman membedakan berbagai penyelidikan ke dalam tiga golongan: Golongan pertama, berusahamembandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat di dua atau beberapa negara denganmemperbaiki cara-cara yang dilaksanakan dalam perhitungan pendapatan nasional biasa.Golongan kedua, adalah usaha untuk membuat penyesuaian dalam pendapatanmasyarakat yang dibandingkan dengan mempertimbangkan perbedaan tingkat harga disetiap negara. Golongan ketiga, adalah usaha untuk membuat perbandingan tingkatkesejahteraan dari setiap negara berdasarkan pada data yang tidak bersifat moneter (non-monetary indicators).
Pengembangan Sektor Industri Menurut Baldwin dan Meier, agar perkembangan ekonomi dapat berjalan seperti yangdiharapkan, ada beberapa syarat yaitu adanya kekuatan dari dalam masyarakat itu sendiri,adanya mobilitas faktor produksi, akumulasi kapital, kriteria dan arah investasi yangsesuai dengan kebutuhan, penyerapan kapital dan stabilitas nilai-nilai serta lembaga-lembaga yang ada.
Untuk perkembangan ekonomi suatu negara antara faktor-faktor ekonomi dan nonekonomi mempunyai peranan yang seimbang, karena antara keduanyasaling ketergantungan dan saling melengkapi, sebab kemakmuran ekonomi itu hanyasebagian saja dari kemakmuran sosial. Untuk mengalokasikan kapital terlebih dahuluharus ditiadakan kriteria dan arah investasi, namun pemilihan ini tidak mudah maka ada 3hal dapat dipergunakan sebagai pedoman yakni: Penempatan investasi diusahakan padakondisi capital output ratio-nya rendah Proyek-proyek yang dipilih harus dapatmemaksimisasikan tenaga kerja (produktivitas tenaga kerja yang tertinggi). Investasi hendaknya mengurangi kesulitan-kesulitan neraca pembayaran internasional sehinggadapat memaksimisasikan perbandingan antara ekspor dan investasi.Industri yang efisien pada umumnya adalah industri yang berskala besar, dan industriskala besar hanya bisa dimungkinkan bila ada jaminan pasar yang luas.
Pasar yang luashanya dapat terjadi dalam perdagangan internasional, yang merupakan syarat bagiterlaksananya pengembangan sektor industri. Sektor industri yang berkembang bilamampu menciptakan surplus maka akan mendorong perkembangan industri yang lain.Suatu negara akan memperoleh peluang surplus hanya kalau negara tersebut menganutsistem perdagangan yang bebas atau perekonomian yang terbuka.Kebijakan dalam Pembangunan EkonomiKebijakan dalam pembangunan ekonomi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitukebijakan ekonomi dalam negeri dan kebijakan ekonomi luar negeri.
Kebijakan ekonomidalam negeri meliputi: peranan pemerintah dalam hal campur tangan terhadap proses pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan, fasilitas pelayanan umum, perbaikandi bidang pertanian, kebijakan di bidang fiskal, dan kebijakan moneter.Kebijakan ekonomi luar negeri meliputi: 1. Kebijakan pemerintah dalam perdagangan barang-barang manufaktur yang lebih menguntungkan daripada barang-barang pertanian,di samping juga memberikan subsidi untuk meningkatkan term of trade dan kebijakan perdagangan yang restriktif untuk memperbaiki neraca pembayaran internasional. 2.Bantuan teknis, mengatur dan membentuk tim internasional untuk memberi nasihatkepada pemerintah negara yang belum maju dalam hubungannya dengan rencana pendidikan di luar negeri untuk menyediakan tenaga ahli. 3. Investasi asing swasta, baik investasi langsung maupun investasi portofolio dengan membeli saham-saham perusahaan di negara yang sedang berkembang. 4. Investasi asing pemerintah; yang padadasarnya juga untuk mendorong investasi swasta asing dan dalam negeri. 5. Kebijakantata niaga; yang meliputi pola umum pengembangan sektor industri, pengaturan tataniaga dan permasalahannya, misalnya: pola ekspor, pola dasar dalam negeri, tarif, kuota,dan penunjukan importir


4. Pertumbuhan Ekonomi dalam Konsep Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Sering kali menjadi semacam ideology of development. Kesadaran suatu bangsa yang terbentuk melalui pengalamannya, baik pengalaman sukses maupun pengalaman kegagalan yang dialami, amat menentukan interpretasi mereka tentangPembangunan Ekonomi. Pembangunan berlanjut atau Sustainable developmentmerupakan proses perubahan dimana eksploitasi sumber alam, arah investasi, orientasi perkembangan teknologi, perubahan kelembagaan konsisten dengan kebutuhan pada saatsekarang dan saat yang akan datang. Pembangunan yang membawa peningkatan produksi, konsumsi, kapital yang kemudian akan membawa kemajuan teknologi, ternyatamemiliki segi negatif: yaitu terjadinya pencemaran lingkungan, yang mesti dihindarikarena akan mengganggu kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain.
Sehingga pendekatan secara ekosistem dalam proses pembangunan merupakan keharusan agar dapat menghindarkan dari segi negatif di atas. Perlu kita ketahui bahwa: memang sulituntuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan sekaligus melestarikan lingkungan untuk kepentingan generasi mendatang. Dalam penggalian sumber-sumber alam untuk keperluan pembangunan ekonomi, harus diusahakan agar supaya: tidak merusak tatalingkungan manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang menyeluruh, dan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.
Demikian besar peranan lingkungan dalam pembangunan ekonomi sehingga dikhawatirkan pembangunan itusendiri akan mengalami stagnasi, karena sumber daya alam sudah tidak ada lagi yangdapat digali atau karena kondisi sumber daya alamnya sudah demikian buruk, karenamenggebunya pembangunan yang dilaksanakan atau karena pertumbuhan penduduk yangcepat sehingga tidak terpikirkan pelestarian dari sumber daya alam itu sendiri.
Pembangunan yang berwawasan lingkungan merupakan suatu usaha untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat/affluent society dengan memperhatikan danmemelihara sumber daya alam atau planet bumi agar di kemudian hari tidak terjadideteriorasi ekologis, soil depletion dan penyusunan sumber daya alam yang tidak dapatdiperbaharui. Masalahnya bagi negara yang sedang berkembang, seperti negara kitaIndonesia adalah bagaimana dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan bagi orang-orang miskin melalui kegiatan pembangunan ekonomi dengan tetap memeliharakelestarian lingkunganIndustri dan Eksternalitas dalam Pembangunan yang BerkelanjutanPembangunan berkelanjutan dapat diartikan sebagai bentuk pembangunan yang tidak menurunkan kapasitas generasi yang akan datang untuk melakukan pembangunan,meskipun terdapat penyusutan cadangan sumber daya alam dan memburuknyalingkungan, akan tetapi keadaan tersebut dapat digantikan oleh sumber daya lain, baik oleh sumber daya manusia ataupun, oleh sumber daya kapital.Keberhasilan strategi industrialisasi akan nampak pada semakin besarnya kontribusi yangdiberikan pada pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan pendapatan nasional(Pendapatan Domestik Bruto) di samping juga adanya kegiatan luar biasa darimasyarakat di bidang: penemuan cara produksi baru, penyesuaian teknologi, dan
Penerapan teknologi untuk kegiatan menghasilkan barang yang dijual di pasar. Tahapindustrialisasi berdasarkan tolok ukur kontribusi nilai tambah sektor manufaktur terhadapPDB, dapat dibagi menjadi; (1) tahap non- industrialisasi, (2) tahap dalam proses menujuindustrialisasi, (3) tahap semi industri, (4) tahap industrialisasi penuh.Eksternalitas dalam pembangunan yang berkelanjutan dapat diartikan bahwa pembangunan yang berkelanjutan yang dilaksanakan oleh setiap negara harusmemperhitungkan adanya akibat positif dan akibat negatif dari pembangunan melaluiindustrialisasi.
Akibat negatif adalah semakin menipisnya, berkurangnya dan semakinrusaknya sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak diperbaharui, yang biasanya ini dianggap sebagai biota pembangunan. Sedangkan yang positif adalah meningkatnya jumlah barang-barang dan jasa yang tersedia, semakin berkurangnya pengangguran, meningkatnya pendapatan masyarakat dan meningkatnyakesejahteraan sebagai akibat pembangunan melalui industrialisasi.Kebijaksanaan pengelolaan, pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian sumber dayaalam dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan menurut Hadi Prayitno dan BudiSantosa (1996, ha1147-156), minimal haruslah memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:menghormati dan memelihara komunitas kehidupan,memperbaiki kualitas hidupmanusia, melestarikan daya hidup dan keragaman bumi Menghindari pemborosansumber-sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, berusaha tidak melampaui kapasitasdaya dukung bumi, mengubah sikap dan gaya hidup orang per orang dan mendukungkreativitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri.









DAFTAR PUSTAKA
Materi Perkuliahan Eko.SDM/SDA oleh dosen Dr.Agung Purwadi,M.eng,P.U.
Sumber buku Ekonomi Pembangunan Karya Endang Mulyani, dkk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar